welcome to my blog...
semoga bermanfaat :)

Minggu, 23 Oktober 2011

gelombang bunyi


  Penerapan gelombang Bunyi
1. Dawai / Senar
Pada senar atau dawai pada gitar kedua ujungnya terikat dan jika digetarkan akan membentuk suatu gelombang stasioner. Getaran ini akan menghasilkan bunyi dengan nada tertentu, tergantung pada jumlah gelombang yang terbentuk pada dawai tersebut. Pola gelombang stasioner ketika terjadi nada dasar (harmonik pertama).
2 .       Pipa Organa
Pipa organa merupakan sejenis alat musik tiup. Bisa dicontohkan sebagai seruling bambu. Anda tentu pernah melihat bahwa ada dua jenis seruling bambu. Demikian juga dengan karakteristik pipa organa. Ada pipa organa terbuka (kedua ujungnya terbuka) dan pipa organa tertutup (salah satu ujungnya tertutup).
Pipa organa merupakan semua pipa yang berongga di alamnya, bahkan Anda dapat membuatnya dari pipa paralon. Pipa organa ini ada dua jenis yaitu pipa organa terbuka berarti kedua ujungnya terbuka dan pipa organa tertutup berarti salah satu ujungnya tertutup dan ujung lain terbuka. Kedua jenis pipa ini memiliki pola gelombang yang berbeda.
a.         Pipa Organa Terbuka
pipa organa terbuka berarti kedua ujungnya terbuka. Pipa organa terbuka merupakan sebuah kolom udara atau tabung yang kedua  ujungnya terbuka. Kedua ujungnya menjadi perut (bebas bergerak) di tengahnya simpul

b.        Pipa Organa Tertutup
pipa organa tertutup berarti salah satu ujungnya tertutup dan ujung lain terbuka. Pipa organa tertutup merupakan sebuah kolom udara atau tabung yang salah satu ujungnya tertutup (menjadi simpul karena tidak bebas bergerak) dan ujung lainnya terbuka (menjadi perut).
Frekuensi nada dasar (fo)

Jumat, 21 Oktober 2011

Fisika modern kenneth , spektrum optik

2.1  Spektrum optik
Bila kita mengeksitasikan atau membebaskan salah satu elektron terluar atom, maka transisi yang terjadi berada dalam rentang spektrum tampak, karena itu disebut transisi optik. Karena orde energi ikat elektron-elektron terluar dalam atom adalah sekitar beberapa elektron-volt, maka dibutuhkan tegangan elektrik yang relatif rendah untuk membebaskan sebuah elektron terluar guna menghasilkan transisi optik. Penyerapan dan pemancaran cahaya oleh elektron-elektron inilah yang berperan memberi warna pada bahan (meskipun energi elektron dalam zat padat biasanya sangat berbeda dari yang dalam elektron terpisah). Berbeda dari spektrum sinar-X, yang berubah secara perlahan dan mulus dari satu unsur ke unsur lainnya, spektrum optik dapat memperlihatkan perubahan besar antara unsur satu dan tetangganya, terutama yang memiliki subkulit terisi penuh.
Setelah atom hidrogen, diagram tingkat energi yang mudah dipahami adalah diagram logam alkali (Li, Na, K, Rb, Cs, Fr), yang memiliki satu elektron s di luar kulit teras konfigurasi gas mulia. Dengan demikian, sebagian besar keadaan eksitasinya adalah eksitasi dari elektron tunggal ini, dan spektrum yang dihasilkan mirip spektrum hidrogen, karena muatan inti atomnya, + Ze, terhalangi oleh (Z-1) elektron lainnya. Gambar 2.6 memperlihatkan tingkat energi Li dan Na bersama dengan beberapa transisi spektrum pancar, yang mematuhi aturan Δl = ± 1 seperti transisi dalam atom hidrogen.
Gambar 2.6 (a) Diagram tingkat energi litium, yang memperlihatkan beberapa transisi (dilabelkan dengan nilai panjang gelombang dalam nanometer) dalam daerah optik. Beberapa energi hidrogen yang berkaitan turut diperlihatkan sebagai perbandingan. (b) Diagram tingkat energi natrium. Pemisahan struktur halus dari keadaan 3p membuat tiap tarnsisi yang mengandung keadaan ini terpecah menjadi suatu dublet rapat.
Konfigurasi keadaan dasar bagi litium adalah 1s22s1 dan bagi natrium 1s22s22p63s1. Keadaan eksitasi ntuk kedua kasus ini dapat diperoleh dengan memindahkan elektron terluar ke tingkat yang lebih tinggi. Sebagai contoh, keadaan eksitasi pertama dari Li adalah 1s22p1; pada keadaan ini elektron 2s telah berpindah ke tingkat 2p. Energi yang diperlukan untuk mencapai transisi ini dapat diberikan melalui berbagai cara, seperti melalui penyerapan sebuah foton atau dengan melewatkan arus elektrik melalui bahannya (dalam wujud gas), seperti dalam lampu tabung gas TL. Elektron tereksitasi pada keadaan 2p, kemudian turun cepat sekali ke keadaan 2s, dengan memancarkan sebuah foton dengan panjang gelombang 670,8 nm. Teras gas mulia tidak berperan dalam eksitasi atau pemancaran ini. Karena itu, dalam mempelajari berbagai tingkat energi dan transisi dalam logam-logam alkali dapat mengabaikan semua elektron pada teras gas mulia, kecuali elektron terluar.
Konfigurasi keadaan dasar helium adalah 1s2. Sehingga dapat dihasilkan suatu keadaan eksitasi dengan memindahkan salah satu elektron ini ke tingkat yang lebih tinggi. Jadi, beberapa konfigurasi eksitasi yang mungkin adalah 1s12s1, 1s12p1, 1s13s1, dan seterusnya. Foton dipancarkan jika elektron yang tereksitasi itu bertransisi kembali ke tingkat 1s; aturan seleksi Δl = ± 1 membatasi transisi yang dapat terjadi. Gambar 4.2 memperlihatkan sebagian diagram tingkat energi helium.









Gambar 2.7 Sebagian kecil diagram tingkat energi helium. Perhatikan transisi-transisi Δl = ± 1
Gejala fluoresensi, yang juga disebut “cahaya hitam” (black light), adalah penyebab benderangnya benda bila disinari dengan radiasi ultraviolet. Semua foton dalam daerah ultraviolet, yang tidak tampak bagi manusia, memiliki energi yang lebih tinggi daripada yang dalam daerah tampak. Karena itu, jika sebuah foton ultraviolet diserap oleh sebuah atom, maka semua elektron terluarnya (yang menyebabkan transisi optik) tereksitasikan ke tingkat-tingkat yang lebih tinggi. Ketika bertransisi kembali ke keadaan dasar, elektron-elektron tersebut memancarkan berbagai foton dalam daerah tampak. Benda yang benderang bila disinari dengan cahaya ultraviolet seringkali memperlihatkan warna biru atau ujung violet spektrum cahaya tampak (yang tidak terlihat bila bendanya disinari dengan cahaya tampak). Efek ini dapat dipahami dengan meninjau susunan cahaya matahari dan keadaan eksitasi suatu atom khayal. Intensitas cahaya matahari yang tinggi terkumpul pada bagian tengah spktrum tampak, yaitu pada bagian kuning; sedangkan pada ujung merah atau biru, intensitas cahaya matahari kecil sekali. Foton “kuning” memiliki energi untuk mengeksitasikan atom khayal ke tingkat 1 dan 2., tetapi tidak cukup untuk mencapai tingkat 3. Tetapi foton ultraviolet, yang lebih tinggi energinya, memiliki energi yang cukup besar untuk mengeksitasikan atom khayal tersebut cukup untuk mencapai ketiga tingkat. Karena itu, cahaya yang dipancarkan atom khayal ini memiliki komponen biru yang lebih kuat apabila dieksitasikan dengan cahaya ultraviolet ketimbang dieksitasikan dengan cahaya matahari.